Seorang psikolog amerika yang terkenal melakukan sebuah eksperimen
luar biasa. Dia dan timnya memberikan sebuah tes IQ kepada seluruh murid
di suatu sekolah sebelum akhir masa sekolah. Kemudian mereka memilih
sepuluh siswa dan mengatakan pada setiap guru dari siswa itu, “Kesepuluh
siswa ini akan berada di kelas Anda. Kami tahu dari tes mereka bahwa
secara teknis mereka memang siswa yang cerdas. Anda akan melihat bahwa
mereka semua akan menjadi yang teratas di dalam kelas mereka pada tahun
ajaran berikutnya. Anda harus berjanji untuk tidak mengatakan hal ini
kepada setiap murid, karena akibatnya akan merugikan mereka.” Para guru
itu pun berjanji untuk tidak mengatakan apa pun.
Kenyataannya adalah bahwa tak satu pun siswa dari daftar tersebut
benar-benar cerdas. Kesepuluh anak itu pun hanya dipilih secara acak dan
kemudian diserahkan pada guru.
Setahun kemudian para psikolog itu kembali ke sekolah tersebut.
Mereka menguji seluruh siswa. Beberapa dari mereka yang dikatakan cerdas
tersbut nilainya naik tiga puluh enam poin. Para psikolog itu
mengadakan wawancara dan bertanya kepada para guru, “Menurut Anda
bagaimana murid-murid ini?†Para guru itu segera menyahut dengan
menggunakan kata-kata sifat seperti “pintarâ€, “dinamisâ€,
“menyenangkanâ€, “menarikâ€, dan sebagainya.
Apa yang telah terjadi pada siswa-siswa tersebut seandainya para guru
tidak berpikir bahwa mereka memang cerdas di kelas? Justru guru itulah
yang telah mengembangkan seluruh potensi siswa-siswa tersebut.
Seseorang yang biasa sekalipun, jika ia dilatih, dimotivasi, dan
dimaksimalkan, hasilnya akan seperti 10 siswa beruntung tadi. Meskipun
ia dipenuhi keterbatasan. Kita lihat bagaimana seorang Thomas Alfa
Edison, yang dianggap siswa lamban di kelasnya, akhirnya menjadi salah
seorang penemu terbanyak di sejarah modern. Entah bagaimana jadinya jika
ia diperlakukan seperti kesepuluh anak tadi, wah.. bisa bisa bom atom
muncul lebih dulu sebelum jamannya einstein.
Kita lihat juga seorang Hellen Keller yang sudah tuli, bisu, buta
lagi sejak dia berumur kurang dari 2 tahun. Sebagai seorang biasa, kita
mungkin akan bingung bagaimana mengatasinya, bagaimana mengajarinya.
Barangkali kita akan berpikir sebaiknya ia dibiarkan hidup, dimanja,
dilayani, meski ia tidak akan tahu apa-apa sampai ajalnya. Namun tidak
dengan orang-orang dekatnya. Mereka menemuan suatu cara
mengkomunikasikan dengan anaknya lewat indra perabanya. Ia pun tidak
dimanja, justru dididik dengan keras, hingga akhirnya kita tahu bahwa
hellen keller, dengan segala keterbatasannya bisa menjadi seorang
pengacara tenar dan penulis ternama di masanya.
IQ kita memang boleh biasa-biasa saja, namun jangan salahkan kita
apabila suatu saat kita bisa melampaui seseorang yang dianggap paling
jenius di negeri ini.
Jangan pernah menganggap kamu adalah seorang rakyat kecil, hanya karena kamu tidak punya kekuasaan atas orang disekitar kamu.
Jangan pernah menganggap kamu miskin hanya karena kamu tidak bisa membiayai sekolah kamu.
Dan Jangan pernah menganggap kamu bodoh, hanya karena kamu kalah
pintar dengan pesaing kamu. Ingat kata2 seorang Thomas Alfa Edison yang
dahulu pernah dicap bodoh oleh guru-gurunya
Anggaplah bahwa kamu adalah orang yang besar (tidak harus dalam arti
fisik tentu) yang mampu membawa orang disekitar kita menjadi lebih
baik, orang yang sangat kaya sehingga mampu bersedekah, dan orang yang
sangat pintar sehingga mampu mengamalkan ilmu yang dimiliki. Namun
tentu saja, janganlah kamu sombong dan Takabur hanya karena kamu
menganggap semua itu secara berlebihan. However, Allah is The Greatest.
Insya Allah, itu jualah yang akan dirasakan kamu dan orang-orang disekitar kamu.
Kondisikanlah orang-orang disekitar kamu untuk menganggap kamu
sebagai orang yang lebih, dan kelebihan itu lama-kelaman akan muncul
dalam diri kamu dengan lebih cepat dari sebelumnya. Jika kamu tidak
bisa mengkondisikan orang-orang disekitar kamu untuk menganggap kamu
seperti para guru diatas menganggap sepuluh siswa beruntung, alihkan
guru itu dan siswa itu menyatu dalam diri kamu. kamu adalah seorang
guru yang menganggap diri kamu juga sebagai murid yang pandai. Insya
Allah, kepandaian itu juga akan datang asalkan kamu juga belajar tentu.
Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Selalu ingatlah dengan Firman Allah Dalam al Qur’an dijelaskan; “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Qs. ar Ra’d : 11).








